MAKALAH
DI PERSENTASI DALAM MATA KULIAH
TAFSIR
DI SUSUN
O
L
E
H
KELOMPOK 6
MUNAWIR
NURSAKINAH
FIKRI WANSARANI
JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA, FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT, UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI AR-RANIRY
BANDA ACEH
2015
A. Surah Al-Baqarah Ayat 62
Artinya
:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang
Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi’in , siapa saja diantara
mereka yang (benar-benar)beriman kepada Allah dan hari kemudian serta beramal
shaleh, maka untuk mereka pahhala mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Tafsirnya :
Yang di maksud “orang-orang yang beiman”
ialah kaum muslimin. Dan “Al-Ladziinahaaduu” ialah orang-orang yahudi, yang
boleh jadi bermakna ‘kembali kepada Allah’ dan boleh jadi bermakna bahwa mereka
adalah anak-anak yahudza. Sedangkan Nashara adalah pengikut Nabi Isa As. Adapu
sabiin menurut pendapat yang lebih kuat ialah golongan musyrikin arab sebelum
diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kaum musyrikin berkata tentang mereka itu,
“sesungguhnya mereka sabauu, yakni meninggalkan agama nenek moyang, sebagaimana
yang mereka katakan terhadap kaum Muslimin sesudah itu. Karena itu lah, mereka
di sebut sabi’ah.[1]
Ayat ini menyatakan bahwa siapasaja diantara
mereka yang beriman kepada allah dan hari akhir serta beramal shaleh, mereka
akan mendapatkan pahala di sisi tuhannya, mereka tidak merasa khawatir dan
bersedih hati. Yang ditekankan di sini adalah hakikat akidah, bukan fanatisme
golonga atau bangsa. Dan hal ini tentu saj asebelum diutusnya Nabi Muhammad
SAW. Adapun sesudah diutusnya beliau, maka bentuk iman yang terakhir ini sudah
di tentukan.Kecaman dan siksa yang diuraikan ayat-ayat yang lalu boleh jadi
diduga sementara orang tertuju kepada Bani Israil. Untuk menampaik dugaan kelir
itu, maka Yang dimaksud dengan kata hadu
aayat ini memulai informasinya dengan kata (inna/sesungguhnya). Memang banyak
orang yang menduga bahwa kedurhakaan orang-orang yahudi mencakup semua mereka,
padahal tidak demikian. [2]
Yang dimaksud dengan kata (hadu) adalah
orang-orang yahudi atau yang beragama Yahudi. Mereka dalam bahasa kata (Ar ab
disebut (yahud). Semantara ulama berpendapat bahwa kata ini terambil dari
bahasa Ibrani (yahudz). Kata (An-Nashar)
terambil dari kata (nashara) yaitu satu wilayah di palestina, dimana maryam,
ibu Nabi Isa As. [3]
B.
Surah An-Nisaa Ayat 77
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ
لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا
كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ
كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ
عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ
الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ فَتِيلا
(٧٧)
Artinya :
“Tidakkah kamu melihat orang-orang
yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tangan-tangan kamu, laksanakanlah
shalat dan tunaikanlah zakat’ setelah diwajibkan kepada mereka perang,
tiba-tiba segolongan dari mereka takut kepada manusia seperti takut kepada Allah,
bahkan lebih dahsyat takutnya. Mereka berkata, “Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan-kepada kami
peperangan? Kiranya Engkau tangguhkan ke waktu yang dekat.” Katakanlah:
“Kesenangan dunia hanyalah sedikit, dan akhirat itu lebih baik untuk
orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”
Tafsirnya :
Mereka tidak merasa rugi, kecewa, dan gagal,
kalau ada sutu kesenangan dunia yang lepas darinya. Karena, di sana ada akhirat
dan ada balasan yang sempurna, yang tidak disertai dengan kedhaliman berikut,
dan tidak di barengi dengan kecurangan dalam perhitungan akhir terhadap dunia
dan akhirat sekaligus.[4]
Akan tetapi, kadang-kadang ada sebagian orang
yang di samping semua ini mengiginkan hari-hari yang panjang di dunia ini,
meskipun ia beriman kepada akhirat dan menantikan balasannya yang baik,
khususnya pada tahap keimanan yang di dalam nya masih ada keinginan demikian.
Maka dalam kondisi seperti ini, datanglah sentuhan kejiwaan yang lain, untuk
meluruskan pandangannya terhadap hakikat kematian dan kehidupan, ajal dan
takdir, dan hubungan semua ini dengan tugas perang, yang mereka keluhkan
sedemikian rupa, dan mereka takut kepada manusia seperti itu.[5]
Sebagaimana di pahami dari gaya redaksi
pertanyaan yang digunakan ayat ini, yaitu Tidakkah kamu melihat wahai kaum
mukminin, orang-orang yang dikatakan kepada mereka, Tahanlah tangan-tangan
kamu, yakni jangan berperang karena belum waktunya, tetapi laksanakanlah shalat
sebagai tanda hubungan harmonis dengan Allah SWT. Sambil bermohonlah kepada-Nya
dan tunaikanlah zakat, sebagai tanda hubungan harmonis dengan makhluk serta
jalinlah kerjasama. Tetapi, setelah diwajibkan kepada mereka perang, tiba-tiba
segolongan dari mereka, yaitu yang ketika turunnya ayat ini telah hidup nyaman,
takut kepada manusia, yakni musuh, seperti takutnya kepada Allah, bahkan dalam
pandangan sementara orang yang melihatnya, atau bahwa sebagian mereka takutnya
sam dengan takutnya kepada Allah, dan sebagian yang lain lebih dahsyat takutnya
kepada manusia dari pada takutnya kepada Allah, mereka berkata, “Tuhan kami
mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami, sedang belum cukup lama kami
terlepas dari kesulitan hidup? Kiranya Engkau tangguhkan kewajiban kepada kami
ke wktu yang dekat, yakni beberapa waktu lagi, agar kami dapat menikmati lebih
lama lagi kesenangan hidup. Katakanlah, seberapa lama pu kesenangan hidup yang
kamu peroleh di dunia, itu tidak ada artinya, karena kesenangan dunia, semuanya
dari awal hingga akhirnya hanya sedikit, yakni sebentar waktunya, tidak banyak jumlahnya
serta rendah kualitasnya, dan disertai pula oleh sesuatu yang mengeruhkan. Itu
untuk dunia seluruhnya sepanjang masa dan akhirat itu lebih baik untuk
orang-orang yang bertakwa, karena kesenangannya banyak, beraneka ragam dan
bersinambung. Dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun, baik jika kamu
berperang dan luka atau mati.[6]
C. Surah Al-An ‘Aam Ayat 32.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٣٢)
Artinya :
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main
dan senda gurau belaka .dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya”?
Maksudnya, kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya
sebentar dan tidak kekal. janganlah orang terperdaya dengan
kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.
Tafsirnya :
Ini adalah penilaian yang mutlak. Namun, hal
itu dalam tashawwur islami, seperti yang telah kami katakan, tidak membuat
pemeluk islam menyia-nyiakan kehidupan dunia, bersikap pasif, dan mengisolasi
diri di dalamnya. Contoh besar yang mencerminkan tasawur islami dalam bentuknya
yang paling sempurna, sama sekali tidak pasif juga tidak mengisolir diri.
Yaitu, generasi sahabat seluruhnya yang telah menundukkan setan dalam diri
mereka. Juga setan dalam sistem-sistem jahiliya yang saat ini sedang berdiri di
sekeliling mereka, yang meletakkan hakimiyaah terhadap manusia kepada para emperor.
Sikap mereka terhadap dunia itu terbentuk oleh pengetahuan yang mereka miliki
tentang nilai dunia itu, seperti yang diberikan oleh timbanga ilahi. Namun
dalam menjalankan tugas segala khalifah itu, mereka melakukannya dengan tujuan
semata untuk Allah dan mengharapkan balasan akhirat. Akhirat adalah suatu yang ghaib. Keimanan
terhadapnya menghasilkan keluasan dalam tashawwur dan peningkatan terhadap
akal. Beramal baginya adalah kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa, yang
diketahui oleh orang-orang yang memahaminya. [7]
“Sesungguhnya kampong akhirat itu lebih baik
bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidaklah kamu memahaminya.”[8]
Setelah keniscayaan hari akhirat terbukti
dengan pembuktian yang demikian gamblang, maka kini di jelaskan tentang
kehidupan kususnya bagi mereka yang kafir, yakni kehidupan dunia bagi mereka yang mengalami kerugian di aakhirat
nanti tidak lain kecuali permainan,
yakni aktivitas yang sia-sia dan tanpa tujuan. Apa yang di hasilkannya tidak
lain menyenangkan hati dan menghabiskan waktu dan kelengahan, yakni melakukan kegiatan yang menyenangkan hati,
tetapi tidak atau kurang penting sehingga melengahkan pelakunya dari hal-hal
yang penting atau dari yang lebih penting, sedang
negeri akhirat akan di nikmati oleh mereka yang melakukan aktivitas
bermanfaat dan memiliki tujuan yang benar, serta di penting untuk di lakukan. Kerena itu, dank arena akhir
perjalanan hidup manusia adalah akhirat, maka ia lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, di bandingkan dengan
kehidupan dunia yang sifatnya sementara. Apakah
kamu, yakni hai orang-orang kafir tidak
berakal, sehingga tidak ada kesadaran yang mampu mencegah kamu terjerumus
dalam keniasaan.[9]
KESIMPULAN
Ayat pertama menyatakan
bahwa siapasaja diantara mereka yang beriman kepada allah dan hari akhir serta
beramal shaleh, mereka akan mendapatkan pahala di sisi tuhannya, mereka tidak
merasa khawatir dan bersedih hati. Yang ditekankan di sini adalah hakikat
akidah, bukan fanatisme golonga atau bangsa.
Ayat kedua menyatakan Mereka tidak merasa
rugi, kecewa, dan gagal, kalau ada sutu kesenangan dunia yang lepas darinya.
Karena, di sana ada akhirat dan ada balasan yang sempurna, yang tidak disertai
dengan kedhaliman berikut, dan tidak di barengi dengan kecurangan dalam
perhitungan akhir terhadap dunia dan akhirat sekaligus.
Ayat ke tiga Sikap mereka terhadap dunia itu
terbentuk oleh pengetahuan yang mereka miliki tentang nilai dunia itu, seperti
yang diberikan oleh timbanga ilahi. Namun dalam menjalankan tugas segala
khalifah itu, mereka melakukannya dengan tujuan semata untuk Allah dan
mengharapkan balasan akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Sayyid Quthub. 2002. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Di
Bawah Naungan Al-Qur’an( Suraht Al- An’aam – Al-‘Araaf): Jilid 4. Jakarta : Gema
Insani Press
M. Qurais Shihab. 2007. Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Surah
Al-fatihah, dan Al-Baqarah), volume 1, Jakarta : Lentera Hati
[1]
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Di Bawah Naungan Al-Qur’an,(Surah
Al-Fatihah-Al-Baqarah) Jilid 1, (Jakarta:Gema Insani Press 2005) 90-91
[2]
Ibid
[3]
M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Surah Al-fatihah, dan Al-Baqarah), volume 1, (Jakarta
: Lentera Hati, 2005) 214-2015
[5]
Ibid
[6]
M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran, Surah An-Nisa’, Volume 2,
(Jakarta : Lenteta Hati, 2007) 514-516
[7]
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Di Bawah Naungan Al-Qur’an(
Suraht Al- An’aam – Al-‘Araaf), Jilid 4
(Jakarta:Gema Insani Press 2002) 64-65.
[8]
Ibid
[9]
M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan,
Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Surah Al-An’am, Volume 4, (Jakarta :
Lenteta Hati, 2007) 68

Tidak ada komentar:
Posting Komentar